Melawan Pandemi Dengan Filsafat STOIK
MELAWAN PANDEMI DENGAN FILSAFAT STOIK
COVID-19 memang tengah menjadi mega-bintang pembicaraan publik dalam beberapa bulan terakhir. Mengupas pandemi ini seakan-akan tidak ada habis-habisnya. Apalagi ada hal yang paling membuat "ketagihan" yaitu dengan mengikuti pertumbuhan angka korban baik yang tengah terinfeksi, sembuh, atau meninggal. Padahal, penyampaian informasi tentang COVID-19 yang bertubi-tubi di masyarakat justru berpeluang membuat mereka sampai ke titik jenuh. Dampaknya tentu pada kesehatan mental. Maka sebagai upaya untuk menjaga kesehatan mental kita di tengah situasi pandemi maka kita perlu belajar dan memahami filsafat stoik yang mungkin bisa kita jadikan senjata untuk melawan Pandemi ditengah bulan suci ramadhan ini.
Apa itu filsafat stoik?
Filsafat stoik merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji filsafat kehidupan dengan pendekatan praktis. Menurut Irvine (2009) dalam karyanya Guide to the Good Life: The Ancient Art of Stoic Joy, dalam berfikir untuk membuat keputusan, seseorang akan dihadapkan dalam tiga situasi yang dikenal sebagai "Trikotomi Pengendalian":
1. Sesuatu yang dapat kita kendalikan secara penuh
2. Sesuatu yang dapat kita kendalikan sebagian
3. Sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan sama sekali.
Dari Tiga kategori di atas disebut juga sebagai derajat atau tingkat pengendalian. Pertama, Kita memiliki kendali penuh terhadap hal yang sedang kita pikirkan, dan kita juga punya kendali penuh terhadap nilai yang kita anut. Kita bebas menetapkan tujuan yang ingin kita capai dan kita memiliki kendali yang penuh terhadap itu.
Misalnya saat kita ingin bangun dari tidur di pagi hari, kita mempunyai kontrol penuh terhadap rencana kita, apakah kita mau bangun pagi atau bangun kesiangan. Masalah apakah kita dapat bangun pagi atau tidak, itu perkara lain dan dalam hal ini masuk ke dalam kategori Kedua, yakni sesuatu yang dapat kita kendalikan sebagian.
Ketiga,yaitu sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan sama sekali adalah, misalnya, kita tidur di rumah lalu berharap keesokan harinya terbangun di Monas. hal ini seperti sebuah mimpi yang sering kita alami.
David Kessler dalam wawancaranya dengan Harvard Business Review, menjelaskan bahwa saat ini kita sedang mengalami ketakutan yang diistilahkan sebagai anticipatory grief. Ketakutan berupa guncangan Psikis, ketakutan terhadap masa depan di tengah-tengah ketidakpastian. Ketakutan akan kematian, ketakutan akan kehilangan orang-orang yang disayangi.
Menurut Kessler, secara otomatis hal ini sering dirasakan dan alami oleh kita jika suatu hal buruk sedang terjadi, tapi sesuatu tersebut tak tampak. Hal inilah yang mengguncang rasa aman kita saat ini, dan kita telah kehilangan rasa aman tersebut. akibat dari pandemi Covid 19.
Lalu bagaimana solusinya untuk menghilangkan anticipatory grief ini dari pikiran kita? Jawabanya adalah menemukan keseimbangan terhadap apa yang kita pikirkan. Karena anticipatory grief memunculkan skenario terburuk dalam pikiran kita, dan untuk mengimbangi hal ini kita perlu kembali ke situasi "sekarang"
.
Kita Patut bersyukur bahwa sekarang kita tidak sakit, persediaan makanan masih ada, dan masih bisa menikmati setiap helaan napas yang mengalir dalam tubuh kita. Keluarga sekitar kita masih baik-baik saja, atau sekalipun ada yang sedang sakit, masih ada peluang untuk sembuh. Kita harus mampu membuang jauh-jauh suatu hal yang tidak dapat kita kendalikan atau kontrol. Masih banyak orang-orang yang tidak menggunakan masker diluaran sana, terisolasi terkena ketentuan PSBB Zona Merah dan hal ha; ngeri lainya itu semuanya adalah salah satu bentuk yang tidak dapat kita kontrol dalam pikiran dan benak kita.
Oleh Karena itu saat ini kita tetap perlu untuk tinggal di rumah saja dan jaga kebersihan diri. Kurangi interaksi fisik (Psyical Distancing) secara langsung. Karena Berpikir positif saat ini adalah hal-hal yang menurut filsafat stoik di atas sebagai sesuatu yang harus dapat kita kendalikan secara penuh. dan senjata untuk melawan penyebaran virusnya.
Kita harus mampu kontrol diri dengan berpikir optimistis, tapi tetap waspada. karena ini adalah salah satu solusi terbaik untuk menenangkan dan menyegarkan pikiran kita di tengah-tengah situasi saat ini. 'Prihatin dan khawatir terhadap sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan sama sekali atau sesuatu yang dapat kita kendalikan sebagian adalah kesia-siaan'. .
Semoga Ramadhan ini membawa berkah buat kita semuanya dan kita bisa merayakan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri tanpa COVID-19. Amiin.
#Mychotop2020
Diolah kembali dari sumber cnn

Komentar
Posting Komentar